Friday, April 22, 2011

Mengapa Matahari menjadi penentu waktu?

"Sunrise"
Pernahkahn kita pikirakan bahwa malam dan siang sebagai penentu waktu?? orang-orang dahulu sering menjadikan malam dan siang sebagain ukuran waktu karena jam belum dikenal saat itu.hanya tanda-tanda dialam yang bisa dijadikan ukuran waktu. Malam dan siang jelas bedanya, gelap dan terang. jadi, bisa dijadikan ukuran. Dalam kehidupan sehari-hari kini pun ukuran itu masih digunakan. kita kenal sebutan 'sehari', 'semalam', atau 'sehari semalam’ dan sebagianya.

Dalam hadis pun, Nabi memberikan petunjuk waktu shalat dengan tanda-tanda dialam. Shalat subuh ketika mulai muncul cahaya fajar di ufik timur, menjelang matahari terbit. Waktu Zuhur ketika matahari condong ke barat. Bila panjang bayangan sebuah tongkat yang ditegakan ditanah sama dengan panjang tongkatnya, itu berarti masuk waktu Ashar. Magrib bila matahari terbenam. Bila cahaya merah di ufuk barat mulai hilang, itulah tanda awal waktu isya. Semua tanda-tanda petunjuk waktu shalat itu sebenarnya berdasarkan posisi matahari di langit.

Berulangnya penampakan matahari dijadikan alat penentu waktu. Satu hari adalah waktu dari saat matahari terbit samapi matahari terbit berikutnya. Kemudian ditentukan bahwa satu hari adalah 24 jam. Satu jam sama dengan 60 menit dan satu menit sama dengan 60 detik. Dalam kenyataannya, jangka waktu sejak matahari terbit sampai terbit berikutnya tidak selau tepat 24 jam. Kadang-kadang lebih dari 24 jam, kadang-kadang kurang dari 24 jam. Tetapi, bila di ambil rata-ratanya dalam satu tahun akan didapatkan angka 24 jam itu.

Kini penetu waktu tidak perlu lagi selalu melihat posisi matahari, tetapi cukup melihat arloji. Bahkan dengan penegtahuan yang makin maju, saat-saat matahari terbit dan terbenam juga sudah bisa dihitung menggunakan komputer, termasuk jadwal shalat.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment